Indolivestock Series 2022 kembali digelar ditahun 2022

“INDO LIVESTOCK, INDO FEED, INDO DAIRY, INDO AGROTECH, INDO VET, & INDO FISHERIES 2022 EXPO & FORUM” KEMBALI DIGELAR DI TAHUN 2022 OPTIMISME MEMBANGKITKAN KEMBALI GAIRAH DUNIA PETERNAKAN, PERTANIAN, & PERIKANAN

JAKARTA, 30 Mei 2022 – Kegiatan pameran internasional yang ke-15 ini akan berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC) pada tanggal 6 – 8 Juli 2022. Pameran Indo Livestock akan digelar bersamaan dengan Indo Feed, Indo Dairy, Indo Agrotech, Indo Vet dan Indo Fisheries 2022 Expo & Forum.

Managing Director PT Napindo Media Ashatama, Arya Seta Wiriadipura mengatakan setelah 2 tahun vakum karena Pandemi Covid-19 akhirnya bisa digelar kembali. Arya menyampaikan bahwa pameran dan forum bergengsi ini telah dinantikan dan diikuti oleh para peserta dan pengunjung yang terdiri dari para profesional dan berasal dari berbagai negara.

“Tahun ini terasa sangat istimewa karena kegiatan pameran internasional ini bisa hadir kembali dan menjadi platform yang tepat bagi para profesional maupun pemangku kepentingan untuk saling bertukar informasi dan teknologi serta tren perkembangan terkini, dimana masing-masing sektor akan menampilkan berbagai inovasi mencakup peralatan pertanian, peternakan, pakan ternak, pengolahan susu, obat hewan, alat-alat kedokteran hewan, produk ekspor dan digitalisasi,“ jelas Arya.

Selama tahun 2020 hingga 2021 industri pameran di Tanah Air mengalami penurunan yang signifikan terkait pandemi Covid-19. Tercatat oleh Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (ASPERAPI), pada tahun 2021 hanya sebanyak 42 pameran yang terlaksana. Di antaranya 18 pameran terlaksana di wilayah Jabodetabek dan 24 pameran dari luar Jabodetabek. Arya menambahkan, “Dengan digelarnya pameran dan forum ini, pameran integrated ini diharapkan turut menjadi bagian dari kebangkitan industri MICE di Indonesia dan berperan efektif dalam pemulihan ekonomi nasional sekaligus dapat menggairahkan kembali dunia peternakan, pertanian, dan perikanan.”

Seluruh pelaku dari dalam dan luar negeri baik pengusaha, peneliti, pemerhati, produsen,  para pakar, kementerian, lembaga dan instansi pemerintah serta asosiasi yang bergerak di sektor terkait, akan turut hadir pada pameran yang akan diikuti oleh lebih dari 18 negara termasuk 4 negara paviliun yaitu Indonesia, Belanda, Korea Selatan, dan Tiongkok.

Dengan mengusung tema “Sinergitas Menjaga Ketahanan dan Kedaulatan Pangan Menuju Swasembada Nasional”, Indo Livestock 2022 Expo & Forum menjadi lebih berbobot dengan ditampilkannya beberapa hal sebagai berikut:

  1. Sustainably Integrated Animal Industry Forum yang mengangkat tema “PMK-Momentum Mengubah Strategi Pembangunan Peternakan,” akan berlangsung selama dua hari, 7-8 Juli 2022
  2. Stan Komoditas Ekspor, akan dimanfaatkan sebagai wadah informasi dan produk-produk peternakan yang sudah diekspor
  3. Reflection Award 2022 oleh Yayasan Pengembangan Peternakan Indonesia (YAPPI).
  4. Sosialisasi pentingnya protein hewani SDTI (SUSU, DAGING, TELUR dan IKAN). Sejak tahun 2008, PT Napindo Media Ashatama berkomitmen untuk meningkatkan konsumsi gizi melalui sosialisasi pentingnya protein hewani untuk mencapai bangsa yang cerdas.
  5. Seminar Finansial Inklusif dan MUNAS Masyarakat Agribisnis Jagung (MAJ)
  6. KIVNAS (Konferensi Ilmiah Veteriner Nasional) oleh Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI)
  7. Puluhan Technical product presentation yang akan digelar selama 3 hari pameran.
  8. Kegiatan pameran dapat dihadiri para pengunjung tanpa dipungut biaya.

Gandeng 21 Pelaku Usaha Komoditas Peternakan, Kementan Tingkatkan Produksi Dan Ekspor

Gandeng 21 Pelaku Usaha Komoditas Peternakan, Kementan Tingkatkan Produksi Dan Ekspor

Tangerang – Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) mendorong pelaku usaha bidang peternakan untuk bersama-sama memperkuat produksi guna penyiapan ketersediaan pangan dan meningkatkan ekspor. Hal tersebut disampaikan saat menyaksikan Penandatangan Naskah Kerjasama Program Super Prioritas pada Rapat Koordinasi Teknis Nasional (Rakorteknas) Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, di Tanggerang,Selasa (08/03).

“Kita semua tahu ketersediaan pangan kita cukup, namun kita perlu menunjukkan dimana keberadaan sentra-sentra produksi kita, sehingga masyarakat mudah mengaksesnya,” kata Mentan SYL. 

“ Ia berharap kepada pelaku usaha agar bekerjasama untuk meningkatkan produksi dan ekspor komoditas peternakan,” ucapnya menambahkan.

Lebih lanjut Mentan SYL, dalam konteks penguatan produksi pangan, sekaligus mendorong peningkatan nilai tambah dan daya saing produk, maka  pada tahun 2022 Kementan melanjutkan Program Super Prioritas Pertanian pengembangan kawasan berbasis Korporasi Petani, dengan meningkatkan investasi di sektor pertanian baik pada sisi hulu maupun hilir. 

 

“Saya minta ekspor kita diperbanyak, Agustus ada Merdeka Ekspor. Petakan daerah yang berpotensi, pergunakan KUR. Negara ini cukup tinggal memerlukan kebersamaan semua pihak,” kata Mentan SYL. 

 

Seperti diketahui ekspor kumulatif sektor pertanian tahun 2021 mencapai Rp. 625,04 triliun atau meningkat 38,69% dibandingkan tahun 2020. 

 

“Kami memberikan apresiasi atas capaian peningkatan ekspor sektor pertanian yang menunjukkan kinerja yang menggembirakan,”ucap Mentan. 

 

Ia menjelaskan untuk merealisasikan target ekspor tersebut dibutuhkan sinergitas dengan semua pihak. “Saya meminta Ditjen PKH agar segera mengimplementasikan Programnya, yaitu (1). Pengembangan sapi model Tapos; (2). Korporasi kambing/domba; dan (3). Pengembangan sarang Burung Walet (SBW) terintegrasi,” tutur Mentan SYL.

 

Sementara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Nasrullah menyampaikan, Program Pengembangan Sapi Model Tapos, merupakan investasi pelaku usaha, yang dalam pengembangannya akan disinergikan dengan kewenangan, kebijakan, program pemerintah (APBN) dan Skim Pembiayaan lainnya (KUR). Terkait pengembangan Sarang Burung Walet, di tahun 2022 kegiatan akan difokuskan pada intervensi terkait pengolahan dan pemasaran di provinsi Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara.

 

Sedangkan, untuk Desa Korporasi Kambing/Domba, Nasrullah mengatakan program ini merupakan investasi pelaku usaha (masyarakat atau swasta). “Maka nantinya akan didukung oleh pemerintah pusat dan daerah, melalui fasilitasi KUR dan juga untuk mendapat kemudahan dalam ekspor, sekaligus diharapkan dapat untuk menumbuh kembangkan mitra potensial disekitarnya dalam pengembang usaha yang saling menguntungkan,” tutur Nasrullah.

 

“Kami akan mengimplementasikan Pengembangan Korporasi Kambing dan Domba ini di Provinsi Sumatera Utara, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, DI.Yogyakarta, Kalimantan Utara, dan Nusa Tenggara Barat,” jelas dia. 

 

Dalam kegiatan Raktorteknas ini, dilakukan Penandatanganan Naskah Kerjasama Program Super Prioritas Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan dilaksanakan oleh 21 (Dua Puluh Satu) Pelaku Usaha untuk komoditas sapi, kambing dan domba, serta walet. Hal ini sebagai wujud Sinergi dan Komitmen dalam pencapaian target pembangunan peternakan dan kesehatan hewan nasional.

 

Penandatanganan MoU tersebut dilaksanakan secara simbolis dengan diwakili oleh delapan pelaku usaha. Adapun beberapa pelaku usaha yang melakukan penandatanganan adalah PT. Asia Beef Bio Farm Indonesia dan PT Sulung Ranch, sebagai perwakilan kerjasama yang mendukung Program Program Pengembangan Sapi Berbasis Integrasi Sapi-Sawit dan Padang Penggembalaan.

 

Kemudian, Bulungan Mandiri Farm dan PT Agro Investama sebagai perwakilan kerjasama yang mendukung Program Pengembangan Korporasi Kambing Domba. Serta Pemda Kabupaten Minahasa Selatan, dan CV. Ading Walet sebagai perwakilan kerjasama yang mendukung Program Pengembangan Sarang Burung Walet.

 

Selain penandatanganan antara pemerintah dengan pelaku usaha, pada acara ini juga dilakukan penandatanganan Pengembangan Kerjasama Investasi di Bidang Peternakan antara PT. Baladna Food Industries (Qatar Q.P.S.C) dengan PT. Berdikari senilai USD 500 juta, dan penandatanganan kerja sama dengan perbankan untuk fasilitasi pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan PT. BNI.

 

Sumber: http://ditjenpkh.pertanian.go.id/gandeng-21-pelaku-usaha-komoditas-peternakan-kementan-tingkatkan-produksi-dan-ekspor

Kementan Peduli Serap Telur Peternak Rakyat

Di Pongkor Ada Peternakan Ayam Ramah Lingkungan, Seperti Apa Tuh?

Selasa, 26 Okt 2021

 

Jakarta – Peternakan ayam modern kini banyak yang menggunakan sistem kandang tertutup guna menjamin keamanan ternak secara biologis. Selain memiliki banyak keunggulan, peternakan dengan sistem close house itu juga dinilai ramah terhadap lingkungan.

 

Seperti halnya yang terlihat di Kampung Gunung Dahu, Desa Bantar Karet, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Kelompok Bakti Tani mengembangkan peternakan ayam ramah lingkungan dengan sistem close house di lahan pribadi seluas 72×10 meter sejak 2019.

 

Menurut Pemilik Peternakan Ayam Pedaging (Broiler) Acang, kandang close house itu ramah lingkungan karena nggak berbau, sehingga peternakan tersebut tidak mengganggu area lingkungan warga sekitar. Hal ini juga sekaligus menyiasati peternakan di wilayah Kabupaten Bogor yang beriklim tropis.

 

“Paling penting kandang juga jadi nggak bau, karena tanah nya tetap kering, dan juga ada ventilasi udara yang keluar masuk. Makanya kandang ini jadi ramah lingkungan,” ujarnya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

 

Lebih lanjut Acang menjelaskan berternak menggunakan cara close house juga ada beberapa keuntungan yang dirasakannya yakni kepadatan ayam lebih efisien. Selain itu, kondisi pertumbuhan bobot ayam merata dan angka kematian terhadap ayam juga rendah karena suhu ruang yang dapat dikontrol.

 

Pasalnya, dia menilai kandang tertutup bisa membuat produksi ayam lebih maksimal, karena ayam menjadi tidak mudah stres. Berbeda dengan kandang sistem terbuka, ayam kerap dipengaruhi oleh kondisi di luar kandang.

 

“Jadi kandang ini bisa menjamin keamanan ayam. Karena dengan adanya pengaturan ventilasi udara yang baik di dalam kandang maka itu dapat mengurangi stres pada ternak, jadi ayam bisa tetap nyaman,” tuturnya.

 

Untuk diketahui, kandang close house milik Acang sendiri merupakan hasil dari program Mitra Binaan Antam UBPE Pongkor. Program pengembangan peternakan ayam ini dipilih sebagai dukungan untuk para mantan Penambang Emas Tanpa Izin (PETI) dalam mendapatkan mata pencaharian alternatif.

 

Kandang close house tersebut terdiri dari dua lantai dengan total ayam kurang lebih sekitar 26-27 ribu ekor dengan masa panennya rata-rata dari 25-35 hari. Hingga saat ini, peternakan ayam broiler miliknya telah melakukan panen sebanyak 15 kali sejak digagas pada 2019. Omzet yang didapat pun cukup menggiurkan.

 

“Karena (peternakan) ini sistemnya kemitraan ya, jadi (setiap panen) saya terima keuntungan Rp 1.500 per ekor. Jadi rata-rata per periode panen itu dapat Rp 40 juta itu bisa dibilang bersih,” tuturnya.

 

Selain itu, pengembangan peternakan ayam broiler ini juga mampu membuka lapangan pekerjaan bagi para pemuda di wilayah tersebut melalui kelompok bakti tani yang saat ini beranggotakan 13 orang.

 

Menariknya lagi, limbah kotoran ayam di kandang close house tersebut dijadikan pupuk kandang untuk pertanian di wilayah Kampung Gunung Dahu. Sehingga hal ini juga turut membantu para kelompok tani yang kesulitan mendapatkan pupuk untuk mengembangkan pertaniannya.

 

Berkat hal ini pula, Peternakan Ayam Pedaging di Kampung Gunung Dahu itu mendapatkan penghargaan Indonesia Sustainable Development Goals Award (ISDA) 2021 dari Corporate Forum for CSR Development. Penghargaan ini diberikan karena peternakan tersebut mampu mengukir manfaat yang berkelanjutan.

 

detikcom bersama MIND ID mengadakan program Jelajah Tambang berisi ekspedisi ke daerah pertambangan Indonesia. detikcom menyambangi kota-kota industri tambang di Indonesia untuk memotret secara lengkap bagaimana kehidupan masyarakat dan daerah penghasil mineral serta bagaimana pengolahannya. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/jelajahtambang

 

 

Sumber: https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5783158/di-pongkor-ada-peternakan-ayam-ramah-lingkungan-seperti-apa-tuh.

Mentan SYL Ingatkan Tantangan Industri Peternakan 4.0

Mentan SYL Ingatkan Tantangan Industri Peternakan 4.0

30 Desember 2021

Menteri Pertanian (Mentan) RI Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengingatkan, industri peternakan memasuki era baru yaitu era industri 4.0 yang menggunakan lebih banyak teknologi. Tren industri 4.0 ini menuntut perubahan yang dilakukan oleh setiap industri salah satunya bisnis peternakan.

 

“Kehadiran revolusi industri 4.0 pada sektor peternakan memiliki manfaat berupa perbaikan produktivitas, mendorong pertumbuhan pendapatan dan peningkatan kebutuhan tenaga terampil,” ujar Mentan SYL pada acara peresmian Pabrik Pakan PT Cahaya Mario di Kabupaten Sidrap, Provinsi Sulawesi Selatan, Rabu (29/12/2021).

 

Ia berharap, ke depannya lebih banyak lagi pabrik peternakan yang mulai mengembangkan industri 4.0 dari mulai hulu sampai hilirnya. Menurutnya, hal kni bisa menjadi momentum untuk bisa bersaing dengan negara maju karena Indonesia sejatinya memiliki sumber daya yang cukup.

 

“Ini bagus, saya berharap dijadikan sebagai super proiritas. Karena bangsa ini butuh kita dan dibutuhkan oleh bangsa luar, kenapa kita ambil dari bangsa lain padahal kita kuat dan punya segalanya,” papar dia.

 

Mentan SYL menyampaikan, kunci dari kesuksesan dalam memasuki era revolusi industri 4.0 adalah pencapaian efisiensi dan produktivitas. Revolusi industri 4.0 ini akan lebih dahulu merambah bisnis perunggasan, utamanya bisnis pakan yang merupakan bagian dari bisnis perunggasan.

 

“Maka dari itu, industri pakan harus mampu dan siap menyesuaikan diri dengan kemajuan tersebut,” ucap Mentan SYL.

 

Berdasarkan survei Altech Global Feed Survey, selama tahun 2021 pertumbuhan produksi pakan secara global diperkirakan hanya sebesar 1%, dengan jumlah produksi mencapai 1.187,7 juta metrik ton.

 

Survei ini menunjukkan bahwa pandemi covid-19 telah mempengaruhi tingkat produksi pakan secara global. Selain itu, pandemi covid-19 juga ternyata mempengaruhi bisnis secara global dengan berkembangnya e-commerce, yaitu bisnis pakan melalui online.

 

Di sisi lain, Mentan SYL menyebutkan, situasi saat ini khususnya di Indonesia pakan merupakan komponen terbesar dalam usaha budidaya ternak, khususnya unggas. Ada sekitar 60-70% dari keseluruhan biaya produksi.

 

Contohnya, sepanjang tahun 2020 produksi pakan nasional mencapai 18,9 juta ton dan pada tahun 2021 diperkirakan mencapai 19,8 juta ton atau diproyeksikan produksi pakan akan tumbuh 4,8 %. Dari jumlah 19,8 juta ton tersebut, sekitar 90% diserap oleh industri perunggasan.

 

“Kendati demikian, karena masih terdapat 35% komponen impor dalam produksi pakan, maka harga pakan relatif rentan terhadap perubahan harga international serta perubahan nilai tukar rupiah,” imbuh Mentan SYL.

 

Jika mengacu kepada data Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), total pabrik pakan di Indonesia berjumlah 92 pabrik dengan kapasitas terpasang 24.260 juta ton. Tercatat sentra produksi pakan di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sumatera Utara, Lampung dan Sumatera Barat.

 

 

Kementan Resmikan Pabrik Pakan di Sulawesi Selatan

 

Menteri Pertanian (Mentan) RI, Syahrul Yasin Limpo (SYL) didampingi Dirjen PKH dan Eselon I Kementan telah meresmikan Pabrik Pakan PT Cahaya Mario di Kabupaten Sidrap, Provinsi Sulawesi Selatan pada Rabu (29/12) kemarin. Ia mengapresiasi langkah PT Cahaya Mario yang mengambil peluang usaha di industri pakan ini karena bisa menghadirkan efek positif lainnya.

 

“Industri pakan ini masih potensial, maka dapat menciptakan iklim persaingan yang sehat, menjadi mitra terpercaya buat para peternak sehingga peternak dapat meningkat kesejahteraannya,” ujar Mentan SYL.

 

“Serta yang terpenting adalah pabrik ini dapat memberikan sumbangsih kepada masyarakat sekitarnya diantaranya petani jagung,” sambungnya.

Mentan SYL mengaku bangga dan senang dengan adanya kegiatan ini. Untuk itu, ia meminta pemerintah daerah setempat untuk mendukung agar Pabrik Pakan PT Cahaya Mario bisa lebih maju dalam waktu dekat.

 

“Kapasitas produksi pakan PT. Cahaya Mario sebesar 10 ton/jam. Dengan produksi ini diharapkan pakan jadi lebih murah dan bermutu. Ayo Pemda harus back-up, kita jadikan lebih sempurna lagi,” beber dia.

 

Seiring dengan peningkatan permintaan penyediaan daging ayam ras, peningkatan konsumsi dan perbaikan ekonomi, maka meningkat pula permintaan akan pakan. Sehingga industri pakan memang masih memiliki potensi dan peluang untuk dapat berkembang.

 

Namun, di sisi lain industri pakan tidak lepas dari tantangan. Misalnya, kelangsungan industri pakan 80%-nya sangat tergantung pada ketersediaan bahan pakan baik dalam jumlah, jenis, kualitas dan kontinuitasnya. Apalagi, bahan pakan yang digunakan untuk memproduksi pakan, sebesar 65% berasal dari bahan pakan lokal dan 35% impor.

 

Meningkatnya permintaan pakan ternak memang sering kali terkait dengan peningkatan kebutuhan akan jagung untuk pakan, lantaran jagung merupakan komponen utama dalam pakan unggas. Hampir 50% komponen pakan unggas adalah jagung sehingga setiap perubahan harga jagung sangat berpengaruh terhadap harga pakan.

 

Kemudian, persoalan biaya logistik yang tinggi untuk mendatangkan bahan pakan khusunya jagung, perubahan pola tanam dan iklim serta kebijkan pakan bebas antibiotok growth promoters (AGP).

 

“Semua hal tersebut adalah tantangan yang perlu dihadapi oleh insdustri pakan,” jelas Mentan SYL.

 

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Nasrullah mengatakan akan memfasilitasi dan terus memberikan dukungan dari segi teknologi maupun kebijakan. Misalnya dengan melakukan koordinasi dengan semua pihak untuk menjamin keberlangsungan industri pakan ternak.

 

“Karena ini sesuai dengan upaya kita mewujudkan Kemandirian dan Ketahanan serta Keamanan Pakan Nasional. Ayo wujudkan pertanian Maju, Mandiri dan Modern,” tutur Nasrullah.

 

http://ditjenpkh.pertanian.go.id/mentan-syl-ingatkan-tantangan-industri-peternakan-4-0

Pemerintah RI – Belgia Tandatangani Kerja Sama Peternakan

Pemerintah RI – Belgia Tandatangani Kerja Sama Peternakan

Ciney – Menteri Pertanian Republik Indonesia (RI) Syahrul Yasin Limpo bersama Menteri Usaha Kecil, Wiraswasta, SME dan Pertanian Belgia David Clarinval, menandatangani Pernyataan Kehendak atau Letter of Intent (LoI) untuk penguatan kerja sama Peternakan di bidang kualitas dan keamanan kesehatan hewan, di kantor pusat Belgian Blue Group di kota Ciney, Provinsi Namur, Belgia pada Senin, 20 September 2021, waktu setempat.

 

Menteri kedua negara sepakat untuk meningkatkan kerja sama yang sudah ada dengan kolaborasi lanjutan di bidang peternakan. Kolaborasi tersebut meliputi manajemen pemeliharaan dan standar sanitasi untuk peternakan Belgian Blue di Indonesia.

 

“Kita harapkan kerja sama ini dapat membantu fasilitasi akses pasar komoditas pertanian, pengembangan kapasitas, kerja sama teknis, dan penelitian bersama antara kedua pihak,” ungkap Syahrul.

 

Ia menyebutkan, Indonesia menikmati surplus perdagangan dengan Belgia, terutama dari ekspor kopi, karet, tembakau, minyak kelapa sawit, kelapa, dan kakao. Sementara Belgia juga turut menikmati peningkatan ekspor ke Indonesia pada produk susu, mentega, dan lainnya seperti kentang dan gandum.

 

“Kita menyambut tren peningkatan perdagangan di antara kedua negara ini,” ungkap Syahrul yang dalam kunjungan ini turut didampingi Dubes RI untuk Belgia Andri Hadi.

 

Lebih lanjut, Syahrul menjelaskan Kementerian Pertanian (Kementan) RI memiliki visi mewujudkan sektor pertanian yang maju, mandiri, dan modern. Kebijakan pertanian tidak hanya menitikberatkan pada transformasi dan penguatan sistem pangan secara lebih holistik dan terintegrasi, tapi tetap berkomitmen terhadap pertanian berkelanjutan, yang sesuai dengan kelestarian lingkungan, sosial, dan ekonomi.”

 

David menyambut inisiatif Indonesia untuk mengembangkan kerja sama lebih lanjut di antara kedua negara. Sejak 2015, Indonesia dan Belgian Blue Group telah bekerja sama untuk mendongrak produksi daging di Indonesia.

 

“Kami siap untuk lebih lanjut melakukan pendampingan di bidang manajemen pemeliharaan, pakan, dan kesehatan ternak Belgian Blue Group di Indonesia,” ujarnya.

 

David juga menyampaikan dukungan penuh penyelesaian perundingan Indonesia – EU Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA). Apalagi I-EU CEPA bisa menjadi alat untuk pemulihan ekonomi ataupun pertumbuhan pada tahun-tahun ke depan. (*)

 

 

Sumber: https://www.pertanian.go.id/home/?show=news&act=view&id=4919

Dinas Peternakan Kab. Blitar Dorong Peternak Produksi Pakan Mandiri

Dinas Peternakan Kab. Blitar Dorong Peternak Produksi Pakan Mandiri

“Karena itulah, jika peternak mampu membuat sendiri pakan ternak secara baik, maka problem tingginya biaya produksi bisa ditekan jika mampu membuat pakan yang baik,” ujarnya di Blitar, Rabu (2/9/2020).

 

Dengan demikian, maka usaha ternak bisa lebih efisien dan keberlangsungan usaha peternakan dan perikanan bisa berkelanjutan (sustainable).

 

Oleh karena itulah, peternak perlu pendampingan agar berkemampuan dalam memproduksi pakan ternak. Pemerintah harus hadir membantu peternak. Salah satu yang dilakukan Pemkab Blitar yakni mendirikan Laboratorium Pakan Ternak dan Ikan. Dengan adanya fasilitas itu, maka peternak bisa memverifikasi hasil pakan ternak olahannya, apakah sudah memenuhi standar terkait kesehatan pakan.

 

Standardisasi pakan diperlukan karena terkait dengan keberhasilan usaha. Jika tidak berhasil, maka akan mempengaruhi produksi peternakan, seperti produksi telur pada peternakan ayam petelur.

 

“Bisa pula peternak memanfaatkan untuk memeriksakan pakan maupun bahan-bahan ternak saat mendapatkan penawaran dari pemasok,” ucapnya.

Dengan membuat sendiri pakan ternak, maka peternak bisa berhemat. Jika dikalkulasi, ada selisih 10 persen-15 persen bila dibandingkan harga pakan dari pabrikan.

 

Dia meyakinkan, Laboratorium Pakan Ternak dan Ikan Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Blitar berkualitas karena sudah terakreditasi. Hasil laboratorium juga diverifikasi laboratorium peternakan dan perikanan milik Kementerian Pertanian di Bekasi.

 

Dia meyakinkan kehadiran Laboratorium Pakan Ternak dan Ikan milik Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Blitar sangat membantu. Karena kemanfaatan dari laboratorium itulah, semakin banyak peternak yang memanfaatkan. Rerata ada 90 sampel setiap harinya.

 

Dengan semakin dikenal dan dimanfaatkannya Laboratorium Pakan Ternak dan Ikan tersebut oleh peternak, dia optimistis, Kab. Blitar terus bisa mempertahankan sebagai sentra ternak nasional, bahkan mampu mengembangkannnya. Kab. Blitar dikenal sebagai sentra unggas, sapi perah, sapi potong, dan perikanan budi daya nasional.

 

Populasi ayam petelur di Kab. Blitar saat ini mencapai 21 juta ekor, ayam pedaging 4,5 juta setiap periode panen setiap 32-34 hari sekali, sapi pedaging 155.000 ekor, sapi perah rakyat 18.000 ekor, sapi perah di usaha peternakan Greenfield 10.000 ekor, kambing 180.000 ekor, dan ikan budi daya 27.000 ton/tahun.

 

Permasalahan saat ini, pabrikan berusaha mempraktikkan monopoli. Seperti saat menjual doc, mereka mensyaratkan juga peternak untuk membeli pakan. Pabrikan juga mendirikan usaha peternakan ayam pedaging selain memproduksi doc. “Ini yang diprotes peternak karena mengancam keberlangsungan usaha mereka,” ucapnya.(K24)

 

 

Sumber : https://surabaya.bisnis.com/read/20200903/531/1287008/dinas-peternakan-kab-blitar-dorong-peternak-produksi-pakan-mandiri

Pasokan Sapi Bakalan dari Australia Berkurang, Importir Lirik 2 Negara Ini

Dinas Peternakan Kab. Blitar Dorong Peternak Produksi Pakan Mandiri

Data Departemen Pertanian Australia menunjukkan populasi sapi menyentuh 24,64 juta ekor pada 2020. Angka ini merupakan yang terendah sejak 1990-an menurut laporan Bloomberg. Populasi yang menurun ini pun berimbas terhadap harga dan pengiriman sapi bakalan ke sejumlah pasar utama Australia.


Negeri Kanguru bahkan diramal bakal kehilangan statusnya sebagai eksportir daging sapi terbesar nomor dua terbesar di dunia saat pemulihan populasi ternak berlangsung.


Dari segi harga, sapi asal Australia biasanya masih bersaing dengan harga sapi produksi negara-negara Amerika Selatan seperti Brasil dan Argentina. Namun sejak populasi terganggu, pasokan sapi di Negeri Kanguru makin ketat dan berimbas pada naiknya harga. Harga sapi Australia bahkan mulai melampaui harga sapi Amerika Serikat yang secara historis lebih mahal.


Direktur Eksekutif Gabungan Pelaku Usaha Peternakan Sapi Potong (Gapuspindo) Joni P. Liano menyebutkan kondisi pasokan sapi bakalan ini menyebabkan utilisasi kandang penggemukan saat ini hanya di kisaran 50 persen atau sekitar 300.000 sampai 350.000 ekor dalam setahun.


Pada masa normal, keterisian kandang penggemukan bisa mencapai 700.000 ekor atau 70 persen dari kapasitas total.


“Dengan utilisasi ini efeknya ke overhead price. Bisnis menjadi tidak efisien,” kata Joni saat dihubungi, Selasa (2/3/2021).


Demi menghindari dampak panjang dari pasokan sapi bakalan Australia yang terbatas saat pemulihan populasi, Joni mengatakan pelaku usaha dan pemerintah sedang membicarakan peluang untuk mengimpor sapi bakalan dari Meksiko.


Negara tersebut menjadi opsi alternatif karena telah dinyatakan bebas penyakit mulut dan kuku (PMK) dan bisa melakukan pengiriman sapi hidup.

“Namun memang untuk implementasinya tidak bisa cepat. Ada tahap-tahap yang harus diikuti. Bagaimanapun kita tidak bisa hanya bergantung dari satu pemasok yang selama ini berasal dari Australia,” katanya.


Alternatif pemasok ini pun disebut Joni perlu mengingat Australia mulai mendiversifikasi pasar untuk sapi bakalannya. Menurut data Departemen Pertanian Australia, ekspor sapi bakalan ke Vietnam tumbuh dalam dua tahun terakhir ketika ekspor ke Indonesia turun.


Pada 2020 misalnya, ekspor sapi bakalan jantan Australia ke Vietnam naik dari 267.563 ekor menjadi 289.555 ekor. Sementara ke Indonesia turun dari 674.076 ekor menjadi 466.525 ekor.


Joni juga mengemukakan terdapat pula usulan untuk mengimpor sapi bakalan dari Brasil. Populasi sapi di negara eksportir daging sapi terbesar di dunia itu tercatat mencapai 244 juta ekor menurut data Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA).


Meski terdapat banyak alternatif pemasok sapi bakalan, Joni mengatakan importasi tetap tidak akan mudah. Sapi hidup asal Brasil dia sebut belum bebas dari PMK sehingga tidak bisa masuk ke Indonesia. Kondisi ini kontras dengan sapi Meksiko yang sudah disetujui sebagai salah satu pemasok sapi bakalan.


“Sapi dari Brasil tidak bebas PMK murni, masih perlu divaksin sehingga tidak bisa masuk. Sempat ada usulan mengadopsi closed system untuk importasi, tetapi masih dikaji,” ujarnya.


Sumber: https://ekonomi.bisnis.com/read/20210302/12/1362777/pasokan-sapi-bakalan-dari-australia-berkurang-importir-lirik-2-negara-ini

Pelayanan Medis Dokter Hewan Via Daring, Memang Bisa?

Pelayanan Medis Dokter Hewan Via Daring, Memang Bisa?

“Mereka mengalami penurunan kunjungan oleh kliennya, bahkan ada yang sampai 75%. Selama pandemi 64% dokter hewan praktisi hewan kecil melakukan konsultasi online melalui daring atau media sosial,” tutur Munawaroh.


Hal tersebut juga diamini oleh Drh Ni Made Restriatri praktisi hewan kecil sekaligus pemilik Bali Vet Clinic. Menurutnya semenjak pandemi Covid-19 dirinya terus memutar otak agar bisnisnya bisa terus survive ditengah cekaman pandemi.


“Kami memang tidak tutup 100%, kami memberlakukan PSBB, konsultasi via daring, dan tentu saja jika hendak berkunjung pemilik hewan diwajibkan untuk membuat appointment terlebih dahulu via telepon,” tukasnya.


Sementara itu Dr Shane Ryan selaku mantan Ketua Umum Asosiasi Dokter Hewan Praktisi Hewan Kecil Seluruh Dunia (WSAVA) yang juga menjadi pemateri mengatakan bahwa sah – sah saja melakukan konsultasi memanfaatkan media sosial dan daring.


“Hal ini juga sudah kami lakukan sejak Covid-19 belum merebak, tetapi makin marak ketika pandemi berlangsung, dan memang kita tidak boleh mengesampingkan sisi keselamatan baik untuk klien dan kita sendiri,” tukas Shane.


Kedepannya PB PDHI sedang membangun jejaring media sosial agar klien dapat melakukan konsultasi secara daring kepada dokter hewan apabila hewan peliharaannya mengalami hal yang tidak normal atau gejala sakit.


“Saat ini kami sudah ada aplikasi HaloVet, dari situ bisa dimanfaatkan apabila klien hendak bertanya dan konsultasi. Mereka juga bisa memilih dengan dokter siapa konsultasinya, dan bila hewan masih sakit maka akan langsung ditunjukkan lokasi terdekat praktik dokter hewan agar dapat membawanya,” tutur Munawaroh.


Namun begitu Munawaroh mengakui bahwa pelayanan via daring yang dilakukan hanya sekedar konsultasi dan pertolongan pertama.

“Kita enggak bisa memberi diagnosis secara online, tetap nantinya kalau si hewan masih sakit akan kita arahkan agar menemui dokter hewan.


Mendiagnosis itu harus melihat dan mengetahui langsung kondisi si hewan, kita ini dokter hewan, bukan dokter hewan. Jadi tetap punya kode etik, salah satunya itu,” pungkasnya.


Webinar tadi merupakan rangkaian acara Indo Vet yang akan diselenggarakan oleh PT Napindo Media Ashatama yang akan dilangsungkan pada tahun 2021. Indo Vet merupakan pameran yang akan memamerkan perkembangan ilmu pengetahuan, tekonologi, peralatan, dan semua terkait aspek kedokteran hewan di Indonesia. Nantinya Indo Vet juga akan dihelat berbarengan dengan pameran sejenis yaitu Indo Livestock, Indo Beef, Indo Dairy, Indo Agritech, dan Indo Fisheries. (CR)


Sumber: http://www.majalahinfovet.com/2020/10/pelayanan-medis-dokter-hewan-via-daring.html

WMU Resmikan Hatchery dan Breeding Farm di DIY

WMU Resmikan Hatchery dan Breeding Farm di DIY

Direktur Utama WMU, Ali Mas’adi menyatakan bahwa WMU merupakan perusahaan peternakan ayam yang terintegrasi dan memiliki kapasitas untuk menetaskan hingga 2 juta telur per bulan.


“Salah satu tujuan dari peresmian hatchery dan breeding farm untuk mendukung program ketahanan pangan yang dicanangkan oleh Pemprov DIY dan memberikan kontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat Yogyakarta,” ujarnya melalui siaran resmi yang diterima Bisnis.com, Selasa (25/8/2020).


Ali Mas’adi menerangkan bahwa untuk breeding farm, WMU menyediakan bibit ayam berkualitas, hasil dari breeding farm yang dikelola secara modern, dengan fasilitas kandang closed house dan teknologi terbaru.


Fasilitas itu menerapkan sistem pemeliharaan Good Breeding Practice (GBP) secara ketat untuk meraih hasil produksi terbaik, yang dijalankan oleh para praktisi muda peternakan berpengalaman dan di bawah supervisi ahli serta akademisi peternakan unggas terbaik.


Sedangkan hatchery WMU memiliki fasilitas setter machine, hatcher machine, dan alat-alat vaksinasi modern dan menerapkan Good Manufacturing Practice (GMP), sehingga menghasilkan produk DOC yang berkualitas terbaik.

Seleksi telur dilakukan secara rutin untuk mendapatkan telur kualitas terbaik, dengan tingkat salable chick yang tinggi sebelum memasuki tahapan setting.

Seleksi berikutnya adalah grading dan sexing sebelum menuju proses boxing dan delivery untuk disalurkan ke peternakan ayam komersial internal maupun eksternal.


Selain hatchery dan breeding farm, perusahaan berbasis di Jakarta ini juga memiliki beberapa unit bisnis dengan fasilitas yang tersebar di Pulau Jawa, antara lain unit bisnis commercial broiler farm, commercial layer farm, slaughterhouse, dan feedmill.


Tumiyana, Founder WMP menyatakan bahwa secara korporasi, saat ini Widodo Makmur Holding terus berinvestasi hingga Rp12 triliun selama 5 tahun ke depan demi kemajuan industri pangan di Indonesia.


“Tahun ini, WMU salah satunya berinvestasi dalam industri peternakan ayam terpadu di Gunung Kidul,” ujarnya.


Sementara itu, belum lama ini WMU juga melakukan groundbreaking pabrik pakan ayam di Ngawi, Jawa Timur, sebagai bagian dari pengembangan bisnis secara vertikal terintegrasi.


Pabrik yang berlokasi di Desa Sidolaju, Kecamatan Widodaren tersebut seluas 12,7 hektare (ha).


“Pembangunan pabrik bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pakan unggas WMU, sehingga meniadakan ketergantungan dengan pihak lain. Pabrik tersebut juga berkontribusi pada penyerapan tenaga kerja, terutama di Ngawi,” ujarnya.


Adapun, WMU juga telah menandatangani nota kerja sama dan surat perintah kerja dengan afiliasi Fuji Electric Group asal Jepang untuk membangun pabrik pakan di Ngawi pada 8 Juli 2020. Saat ini, WMU juga memiliki pabrik pakan di Balaraja, Tangerang, Banten.


Di sisi lain, WMU dan PT Retail Komoditas Nusantara (Agretail.id) telah menandatangani perjanjian kerja sama (MoU) untuk distribusi di beberapa Kabupaten se-Indonesia.


“Hal ini sesuai dengan rencana pengembangan usaha WMU sebagai perusahaan peternakan ayam yang terintegrasi secara vertikal untuk memenuhi permintaan terhadap bahan pangan berbasis protein hewani untuk seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya.


Menurutnya kerja sama strategis ini adalah bagian dari strategi WMU untuk memperluas jaringan pasar dan distribusi di Indonesia.


“Kecepatan pertumbuhan distribusi yang terintegrasi dan dioptimalisasi dengan teknologi diharapkan dapat meningkatkan efisiensi yang dampaknya akan dirasakan oleh peternak dan tentunya konsumen,” tegasnya.


Sumber : https://ekonomi.bisnis.com/read/20200825/99/1282837/wmu-resmikan-hatchery-dan-breeding-farm-di-diy

Indonesia Berpotensi Mengembangkan Bisnis Integrasi Sawit Sapi

Indonesia Berpotensi Mengembangkan Bisnis Integrasi Sawit Sapi

Menteri Pertanian, Republik Indonesia Syahrul Yasin Limpo (SYL) menjelaskan bahwa integrasi sawit dan sapi mempunyai potensi yang sangat besar dan menyangkut kepentingan negara dan rakyat banyak.


Sawit saat ini telah menjadi salah satu kekuatan nasional, dan apabila dapat diintegrasikan dengan ternak sapi maka kekuatan itu akan semakin besar. Apabila dilihat, komoditas sawit semakin hari semakin berkembang dan nilai ekspornya naik 13,11%.


Menurutnya, jika integrasi ini dapat dijalankan maka produksi sapi yang dihasilkan dapat menjadi subtitusi impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.


“Pada tahun 2021, pemeliharaan ternak sapi yang dikaitkan dengan sawit menjadi fokus penting yang harus dikembangkan,” tegas SYL.


Hal ini diperkuat oleh Muhammad Zainuddin, General Manager Agronomi PT Buana Karya Bakti. Dirinya mengaku bahwa produktivitas tandan buah segar (TBS) di lokasi integrasi sawit sapi meningkat rata-rata 4 persen apabila dibandingkan dengan area yang tidak diintegrasikan.


Selain itu integrasi ini juga dapat meningkatkan efisiensi biaya pada pemupukan dan penanggulangan gulma. Terkait dampak kepadatan tanah imbas dari aktivitas sapi yang sering dikhawatirkan oleh pekebun sawit, pihaknya telah melakukan pengamatan yang bekerja sama dengan IACCBP dan BPPT.


“Aktivitas tersebut menghasilkan data bahwa tanah yang diintegrasikan memang sedikit lebih padat, namun masih di bawah ambang batas maksimum yakni 300 Psi,” ujarnya.


Dalam kesempatan yang sama, Dirjen Perkebunan, Kasdi Subagyono menyampaikan bahwa lahan sawit di Indonesia seluas 16,38 juta hektare yang dapat dikembangkan untuk integrasi sawit sapi. Apabila dibagi dalam kepemilikannya, lahan sawit rakyat seluas 6,72 hektare.


Menurutnya, dari luas itulah integrasi tersebut dapat dikembangkan, meskipun yang milik multinasional menjadi peluang besar, dan sudah banyak lahan sawit multinasional yang telah melaksanakan integrasi ini.

“Saya menyarankan program ini untuk bisa diterapkan fokus kepada perkebunan sawit rakyat, sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan pekebun sawit kita,” tegasnya.


Hal senada dijelaskan oleh Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Nasrullah, dalam materinya terkait Peluang Bisnis Pembiakan Sapi yang Terintegrasi dengan Kelapa Sawit.


Menurutnya sistem integrasi sapi sawit sangat lah efisien dan mempunyai biaya produksi yang paling rendah apabila dibandingkan denga sistem pemeliharaan lainnya.


Saat ini pemerintah sedang menjalankan program 1000 desa sapi yang salah satunya akan fokus pada kluster sawit. Selain itu, Pemda di beberapa wilayah sentra sawit telah mengeluarkan regulasi terkait dengan kewajiban perkebunan sawit untuk diintegrasikan dengan sapi.


“Kendala yang saya lihat dalam program ini hanyalah kemauan semata, alasan terkait kualitas tanah, biaya maupun kesehatan sudah dipatahkan secara ilmiah. Mungkin bisa didiskusikan, perlu adanya regulasi level presiden terkait kewajiban integrasi sapi sawit ini, terkhusus untuk yang mempunyai skala besar,” ucap Nasrullah.


Sementara itu dari persepsi akademisi, Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA., IPU., ASEAN. Eng yang merupakan Dekan Fakultas Peternakan UGM menjelaskan bahwa integrasi sapi dalam perkebunan sawit memberi manfaat nyata dari aspek ekonomi dan lingkungan untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan.


“Keberhasilan introduksi model integrasi ini tergantung pada intensitas dan keberlanjutan pendampingan langsung untuk memastikan transfer teknologi dapat diadopsi secara baik oleh pekebun atau peternak,” jelasnya.

Pernyataan tersebut diperkuat oleh Dr. Rusman Heriawan, Tim Nasional Pelaksana Rencana Aksi Nasional Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Tahun 2019-2024 (RAN KSB).


Menurutnya pemeliharaan sapi pada lahan sawit bukan lah dasar bisnis dari pelaku usaha sawit, jadi manajemen SDM yang ada harus di perhatikan dengan baik.


“Integrasi sapi-sawit bukanlah sesuatu yang mudah namun juga tidak sulit apabila semua stakeholder mempunyai pemahaman, kepentingan dan komitmen bersama,” pungkasnya.


Sumber: https://poultryindonesia.com/indonesia-berpotensi-mengembanhkan-bisnis-integrasi-sawit-sapi/